Mahakam Ulu, SMRFOLKS.id – Kematian seorang pekerja General Affair di PT. Borneo Bhakti Sejahtera (BBS) yang terjadi pada, 3 Mei 2024, masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan.
Diketahui, peristiwa ini terjadi di Kampung Memahak Besar (Blok K48), Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.
Selama lima bulan, keluarga korban meragukan proses penyelidikan dan mengindikasikan adanya keterlibatan perusahaan dalam kejadian tragis tersebut.
Pihak kelurga semakin dibuat curiga, sebab peristiwa ini sama sekali tidak terekspos ke media.
Penyelidikan yang sebelumnya ditangani Polsek Long Bangun kini telah dilimpahkan ke Polres Mahakam Ulu, namun keluarga korban mengaku tidak dilibatkan dalam proses yang seharusnya transparan.
Kejanggalan demi kejanggalan membuat mereka kian curiga terhadap perusahaan tempat korban bekerja.
Istri korban, yang kini harus berjuang seorang diri menghidupi dua anaknya, menuturkan bahwa informasi awal mengenai insiden justru diperoleh dari pihak perusahaan, bukan dari kepolisian.
“Foto-foto yang kami terima berasal dari manajemen perusahaan, bukan aparat hukum,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Lebih lanjut ia menjelaskan, foto-foto tersebut hanya sebagian dan disertai peringatan keras untuk tidak disebarluaskan.
Menurut istri korban, kondisi jasad suaminya menunjukkan adanya luka di bagian kepala depan dan belakang, serta tangan yang mengepal dan membiru, seolah-olah korban sempat memberikan perlawanan.
“Luka-luka itu tidak sesuai dengan penjelasan yang kami terima,” tegasnya.
Pihak kepolisian semula menyatakan korban meninggal akibat terjatuh di medan yang curam. Namun, belakangan muncul keterangan lain yang menyebutkan korban tertimpa dahan kayu.
“Bagaimana mungkin luka di kepala depan dan belakang bisa disebabkan oleh jatuh atau tertimpa dahan?” tambahnya lagi, mempertanyakan keabsahan investigasi yang dilakukan.
Kecurigaan keluarga semakin bertambah ketika mengetahui enam rekan kerja korban yang berada di lokasi kejadian tidak memeriksa kondisi korban sebelum meninggalkan tempat tersebut.
“Mengapa tidak ada yang memastikan keadaan suami saya? Ini tidak masuk akal!” seru istri korban dengan nada marah.
Selain itu, perusahaan tempat korban bekerja dinilai tidak memberikan dukungan hukum yang semestinya.
Istri korban mengungkapkan bahwa ketika meminta bantuan hukum, perusahaan menolak dengan alasan bahwa pengacara bukan solusi yang tepat.
“Seharusnya mereka membantu kami mencari keadilan, bukan mengabaikan kami,” katanya, kecewa.
Saat ini, keluarga korban telah mengajukan permohonan resmi kepada Kapolri dan Kapolda untuk mendapatkan penjelasan terkait perkembangan kasus, namun hingga kini respons yang diterima masih sangat minim.
Mereka pun berharap media dapat membantu mengangkat kasus ini agar keadilan bisa terwujud.
“Saya hanya ingin tahu kebenaran dan memperoleh keadilan bagi suami saya. Ini bukan tentang menyebarkan informasi sembarangan,” tuturnya penuh harap.
Kasus ini masih menjadi sorotan, terutama karena lambatnya proses hukum yang berjalan.
Dengan berbagai kejanggalan yang terus mencuat, keluarga korban kini semakin terpojok, namun mereka bertekad untuk tidak menyerah mencari keadilan.










Mungkin teras Samarinda ini bisa dibuatkan jadwal edukasi ke pengunjung,agar menjaga kebersihan dan fasilitas yang ada,masyarakat diajak sejak dini agar tidak membuang sampah di sembarang tempat,Pastikan ada tempat sampah yang selalu tersedia,dan ada petugas yang selalu mengingatkan pengunjung,kira2 bisa ga yaa warga Samarinda?