Sacom.id – Pembangunan tugu patung biawak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, yang belakangan mencuri perhatian masyarakat, turut memunculkan berbagai spekulasi mengenai sumber pendanaannya.
Patung yang berdiri megah di jalur Wonosobo-Banjarnegara ini bahkan sempat disebut-sebut menggunakan dana desa senilai Rp50 juta
Menanggapi isu tersebut, Kepala Desa Krasak, Supinah, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Ia menuturkan bahwa pembangunan tugu sama sekali tidak menggunakan anggaran dana desa.
“Saya klarifikasi, itu bukan dari anggaran desa. Anggaran pembangunan tugu tersebut berasal dari CSR (Corporate Social Responsibility) yang diberikan oleh kabupaten, serta swadaya masyarakat berupa gotong royong dan konsumsi selama proses pembangunan,” ujar Supinah.
Hal senada juga disampaikan oleh Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat. Ia menegaskan bahwa tidak ada alokasi dana dari APBD Kabupaten untuk proyek ini.
Menurutnya, pembangunan tugu merupakan hasil sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan daerah (BUMD) yang ada di Wonosobo.
“Pemerintah daerah tidak punya anggaran untuk itu. Kami memang tidak menganggarkan lewat APBD, tapi kami coba menyentuh teman-teman BUMD agar ikut gotong royong,” kata Bupati Afif.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Karang Taruna Desa Krasak dan seniman lokal Arianto, yang menjadi aktor utama dalam perencanaan dan pembuatan tugu setinggi 7 meter tersebut. Bupati berharap karya ini bisa menjadi ikon baru yang membanggakan Wonosobo.
“Ini bentuk gotong royong nyata, dan saya senang masyarakat terlibat aktif. Hasilnya juga luar biasa dan mampu mengangkat nama Wonosobo,” tambahnya.
Pembangunan tugu yang dikenal dengan nama Tugu Krasak Menyawak ini dimulai pada 3 Februari 2025 dan rampung dalam waktu satu setengah bulan, meskipun pengerjaan kawasan pendukung seperti taman dan tempat duduk masih dalam proses penyempurnaan.









