Balikpapan, Sacom.id – Inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan serta kesejahteraan nelayan lokal kini hadir dari kolaborasi luar biasa antara Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Balikpapan dan para alumni Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Bersama, mereka berhasil merakit kapal fiber bertenaga listrik berbasis tenaga surya, sebuah terobosan yang menjadi harapan baru bagi masa depan perikanan ramah lingkungan di Kalimantan Timur.
Kapal ini dilengkapi motor listrik bertenaga 60 volt dan menggunakan baterai lithium box sebagai media penyimpanan daya. Energi utamanya bersumber dari panel surya yang terpasang di atas kapal, memungkinkan pengisian daya secara otomatis saat terpapar sinar matahari.
Ketua DPD KNPI Kota Balikpapan, Andrie Afrizal, menyampaikan rasa syukurnya saat melihat proyek ini akhirnya terealisasi setelah melalui proses penantian cukup panjang.
Mesin kapal bahkan didatangkan langsung dari Tiongkok demi memastikan kualitas dan performa optimal.
“Alhamdulillah, setelah beberapa lama menunggu, akhirnya seluruh komponen termasuk mesin dari China sudah tiba. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan besar di Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, untuk ikut serta membantu nelayan kita,” ujar Andrie dengan penuh semangat.
Ia pun berharap perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut dapat memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka untuk mendukung peralihan nelayan dari bahan bakar minyak (BBM) ke energi terbarukan.
“Anggaran kami di KNPI terbatas, namun CSR perusahaan-perusahaan itu pasti bisa membantu seluruh nelayan yang ingin beralih ke kapal tenaga surya,” tambahnya.
Di balik keberhasilan kapal ini, terdapat peran penting seorang alumni ITK bernama Wahyu, sosok muda yang menjadi otak dari proses perakitan kapal.
Ia menjelaskan bahwa kapal listrik ini dapat menempuh jarak hingga 50 kilometer hanya dengan mengandalkan energi yang tersimpan dalam baterai lithium.
“Selama matahari bersinar, nelayan tidak perlu lagi membeli bahan bakar solar. Ini langkah awal menuju modernisasi kapal nelayan sekaligus peningkatan taraf hidup mereka,” ujar Wahyu.
Salah satu nelayan penerima bantuan, Ramli, menyambut kehadiran kapal listrik ini dengan rasa haru dan bangga. Ia mengaku sudah mencoba mengoperasikan kapal tersebut dan merasakan banyak manfaatnya.
“Alhamdulillah sudah saya coba keliling. Mesinnya halus, tidak bising, jadi lebih nyaman saat mancing karena tidak menakuti ikan. Dan yang paling penting, saya tidak perlu beli solar lagi,” ungkap Ramli sambil tersenyum.
Sebagai bentuk apresiasi, Ramli bahkan mencantumkan tulisan “KNPI” di bodi kapal fibernya sebagai tanda terima kasih kepada organisasi kepemudaan tersebut.
Inisiatif KNPI dan alumni ITK ini tidak hanya menjadi solusi atas tantangan BBM yang kian mahal, tetapi juga menjadi simbol bahwa teknologi dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat akar rumput.
Dengan dukungan lebih luas dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin seluruh nelayan di Balikpapan bahkan Kalimantan Timur bisa beralih ke kapal listrik dalam waktu dekat.
Satu langkah kecil dari KNPI dan ITK, namun dampaknya bisa sebesar samudra untuk masa depan para nelayan Indonesia. (*)




